Latest Post

Membaca Aksi-aksi Menegangkan PKS

Ahmad Ahid | Kompasiana


Prediksi para pengamat politik terhadap elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) antara medio 2012 hingga awal 2013 menunjukkan penurunan yang tajam. Hal ini dikuatkan oleh survei yang diadakan oleh lembaga-lembaga survei Indonesia yang menyatakan bahwa ada dua partai yang mengalami terjun bebas; Partai Demokrat (PD) yang hanya mendapatkan 8 % dan PKS yang turun pada angka 2,8 %. Fenomena ini dimanfaatkan oleh media untuk semakin memastikan bahwa kedua partai tersebut mulai ditinggalkan konstituennya.

Faktor utama yang menyebabkan turunnya elektabilitas kedua partai tersebut adalah keterlibatan sejumlah elit politik dalam masalah korupsi. Pada kasus PD, beberapa elitnya kesandung korupsi mega proyek Hambalang, sebut saja Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng dan terakhir Ketua Umum PD Anas Urbaningrum yang mengundurkan diri dari jabatan ketua umum setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Pada kasus PKS, Presiden Partai Luthfi Hasan Ishaq (LHI) ditahan oleh KPK karena diduga menerima suap kuota impor daging sapi, meskipun peristiwa penetapannya sebagai tersangka dan penahanannya menyimpan banyak keganjilan.

Di samping masalah korupsi, analisis para pengamat politik didasarkan pada kekalahan PKS pada Pemilukada DKI Jakarta tahun 2012 yang hanya mendapatkan 11 % suara -padahal sudah menurunkan tokoh nasional Hidayat Nur Wahid, jauh dari perolehan suara pada Pemilukada sebelumnya tahun 2007, yaitu 44 %. Tren menurunnya perolehan suara PKS pada Pemilukada terakhir diprediksikan oleh para pengamat bahwa PKS akan semakin terpuruk menghadapi Pemilu tahun 2014 mendatang, sebab DKI Jakarta adalah barometer eksistensi dan elektabilitas sebuah partai politik. Bahkan sebagian pengamat memprediksikan PKS tidak mampu mencapai batas electoral threshold 3,5 %, artinya PKS akan tidak bisa ikut Pemilu, bisa jadi bubar dan tidak ada lagi kelanjutan sejarah partai fenomenal ini atau kembali kepada habibat semula; menjadi gerakan sosial.

Prediksi ini semakin menguat dengan ditangkapnya LHI pada tanggal 30/1/2013 sebagai tersangka kasus suap impor daging sapi. Publik semakin tidak percaya dengan PKS, juga kader pun semakin goyah karena peristiwa ini. Sebagian kader bahkan malu keluar rumah saat berita ini booming di media. Badai Tsunami benar-benar meluluhlantakkan bangunan perjuangan PKS. Apakah PKS tinggal namanya saja?

Terjadi banyak peristiwa yang menegangkan dalam waktu yang sangat cepat pada hari-hari setelah peristiwa ini terjadi. LHI mengundurkan diri dari jabatan presiden partai dan dari anggota DPR RI dengan sambutan yang dipahami oleh publik bahkan kader, antara tidak percaya, mencemooh atau tuduhan kemunafikan; memakai baju agama untuk melakukan tindak korupsi dan aroma prostitusi.

Selang satu hari setelah itu, tepatnya hari Jum’at, 1/2/2013, Dewan Syuro melakukan rapat untuk menyikapi peristiwa ini dan mengangkat presiden baru PKS pasca kemunduran LHI. Publik dan kader pun dibuat tegang, bertanya-tanya siapakah pengganti LHI dan apakah presiden yang baru mampu memulihkan kondisi PKS setelah diterjang badai Tsunami?

Pemilihan presiden partai kali ini memang paling berbeda dari pemilihan-pemilihan sebelumnya. Pemilihan kali ini terjadi pada kondisi krisis dan kritis, sementara pemilihan sebelumnya berjalan mulus pada setiap akhir periode kepemimpinan. Ada dua kemungkinan efek dari pengangkatan pemimpin partai di saat krisis dan kritis; mampu untuk bangkit dari krisis atau semakin bertambah kritis.

Penantian pengumuman presiden partai juga merupakan detik-detik yang sangat menegangkan. Seluruh mata media, kader, simpatisan dan publik tidak beralih menyaksikan live pengumuman Dewan Syuro PKS, statemen dan langkah-langkah politik yang akan diambil. Kondisi semakin tegang karena waktu pengumuman yang seyogyanya disampikan pada pukul 13.00, akhirnya molor hingga pukul 14.00. Kondisi bertambah tegang, ketika Ketua Dewan Syuro mengumumkan nama pengganti LHI, sebab telah beredar dua nama kandidat presiden partai baru, yaitu Hidayat Nur Wahid (kader terbaik PKS, mantan presiden partai) dan Anis Matta (sekjen partai sejak PK hingga PKS). Pendapat para pengamat lebih banyak tertuju kepada Hidayat Nur Wahid yang telah terbukti mampu menaikkan suara PKS secara drastis pada Pemilu 2004 dengan perolehan suara 7% dari sebelumnya, Pemilu pertama yang diikuti tahun 1999 sebesar 1.7% dan diharapkan mampu menyelamatkan PKS. Namun pendapat pengamat politik meleset. Nama yang disebut oleh Ketua Dewan Syuro sebagai pengganti LHI adalah Anis Matta, bukan Hidayat Nur Wahid.

Kondisi tegang kembali terjadi, ketika Presiden baru PKS Anis Matta menyampikan orasi politiknya. Dada ini bergemuruh, ingin meledak melawan konspirasi terhadap PKS, muncul semangat kebangkitan saat Presiden mengungkapkan, “Peristiwa besar ini akan menjadi hentakan sejarah yang membangunkan macan tidur PKS”, “Hari ini berlaku ayat Allah SWT (pinggang mereka tidak bersahabat dengan tempat tidur, QS. As-Sajdah:16)” yang disambut teriakan, gemuruh takbir dan tangis semangat perjuangan di kantor DPP PKS dan di setiap rumah kader yang menyaksikan orasi live ini.

Setelah diangkatnya menjadi presiden partai, Anis Matta langsung mengadakan road konsolidasi maraton ke seluruh daerah dakwah; Bandung, Medan, Yogyakarta, Surabaya, Makasar dan Bali. Betul-betul aksi yang menegangkan. Di setiap acara konsolidasi, peserta yang hadir tumpah ruah sampai ke jalan-jalan, tidak hanya kader dan simpatisan, masyarakat umum pun tertarik ingin hadir mendengarkan orasi politik “Soekarno Muda” yang menggelegar dan membakar semangat itu. Efek “Soekarno Muda” semakin terasa dan berdenyut di berbagai daerah, mengusik keingintahuan masyarakat tentang apa yang sedang terjadai pada PKS. Ujungnya, justeru mereka minta bergabung menjadi anggota PKS, tidak hanya muslim, masyarakat non-muslim pun memberi dukungan dan daftar ke PKS.

Tidak lama setelah melakukan konsolidasi, PKS dihadapkan pada Pemilukada Jawa Barat yang mengusung kadernya, Ahmad Heryawan berpasangan dengan Dedy Mizwar. Sebuah tantangan yang menegangkan, akankah PKS mampu memenangkan pertarungan politik ataukah tergerus oleh badai Tsunami Jakarta? Di samping itu, persaingan politik untuk menduduki kursi gubernur Jawa Barat sangat ketat dan sama-sama kuat, terutama pesaing pasangan Dede Yusuf-Lex Laksamana dan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki. Namun alhasil, quick count lembaga survei dan real count KPUD ternyata mengunggulkan pasangan Ahmad Heryawan-Dedy Mizwar dengan perolehan suara 32.8%.

Kemenangan PKS di Jawa Barat sangat diharapkan menyebar auranya di Pemilukada Sumatera Utara yang mengusung pasangan Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi. Dan ternyata benar, berdasarkan hasil quick count lembaga survei, pasangan ini memenangkan pertarungan dengan meraup suara 33 %. Dua Pemilukada di kedua daerah dengan jumlah pemilih terbesar telah dimenangkan oleh PKS, cukup membuat seluruh kader dari pusat sampai daerah bernapas lega setelah diguncang badai Tsunami.

Inilah kondisi-kondisi menegangkan yang dialami PKS. Apakah PKS sudah keluar dari krisis? Apakah PKS siap memenangkan Pemilukada-Pemilukada selanjutnya? Dan apakah PKS mampu menjadi tiga besar pada Pemilu nasional 2014? Kita monitoring terus perkembangannya…


http://politik.kompasiana.com/2013/03/10/membaca-aksi-aksi-menegangkan-pks-merubah-kelemahan-menjadi-kekuatan--535751.html
 

PKS Haters Melumpuhkan PStrategiKS...

Oleh: Anwar Muhammad | Kompasiana

Hampir pasti bahwa apapun media [elektronik, kertas, sosial, dll] yang kita baca, dengar dan saksikan, semuanya berisi kritik, hujatan dan makian dalam skala dan level variatif terhadap PKS. PKS muncul sebagai musuh bersama yang mesti diberangus, diinjak-injak, difitnah, dan di-KO serta di-di negatif lainnya. Dikompasiana, hal ini merupakan sarapan pagi, muncul sebagai artikel HL, terlebih bila penulisnya terverifikasi.

Untuk menguatkan argumen kebenciannya, kompasianers tersebut menjadikan TEMPO sebagai rujukan [baca: sumber kebenaran] utama. Meskipun ada referensi lain, namun bila ditelusuri, ujung-ujungnya TEMPO juga [TEMPO memang lihai memainkan ritmenya, hehe]. Akibatnya, paduan suara PKS haters ini nampak mendayu-dayu, tak pernah hening, walau kadang sumbang dikarenakan tangga nada makian, serasa minor dengan fakta-fakta aktual [baca: kemenangan PKS dipilgub Jabar & Sumut]. Dalam pikiran kejujuran mereka, muncul pertanyaan, wahai Tuhan, mengapa Engkau sodorkan bantahan-bantahan hujatan kami, kami tidak mengharapkan irama paradoksal ini wahai Tuhan.

PKS haters, the companions & their followers, tidak pernah kehabisan akalnya yang hanya secuil. Dengan gelora yang membuncah dalam sanubari mencla-mencle, irama paradoks ini terus mereka koreksi. PKS tidak mungkin hidup lagi, kami sudah membunuhnya dengan tusukan didada dekat jantung sebanyak 8 kali [mereka lupa bahwa sekarang PKS bernomor 3, berarti 5 tusukan meleset dong, hehe]. Obsesi ini membangunkan semangat membuat opini baru tentang kecurangan incumbent dalam pertarungan, dan incumbent itu pasti PKS.

Fakta-fakta baru kemudian diramu sedemikian sehingga menjadi racun yang mematikan, melumpuhkan setiap syaraf dan organ-organ PKS. Meski tak dinyana, logika yang mereka bangun dalam setiap premis kebohongan, menghasilkan unexpected conclusion. Mereka lupa (baca: memaklumi ukuran akal) bahwa hanya premis yang benar yang akan menemukan konklusi yang benar pula, tautologi. Alhasil, opini tetap saja opini, hanya ajang mengekspresikan kekesalan dan kegalauan hati serta umpatan-umpatan (komen) dalam habitat manusia setingkat di atas sapi.

Agar tak disangka hanya mengkritisi tanpa solusi, PKS haters lalu memunculkan tokoh-tokoh baru yang (dianggap) bersih, jujur dan profesional. Jokowi adalah salah seorang tokoh yang mereka puja-puji berlebihan, kultus baru ditengah kegersangan sosok idola masa sekarang. Secara pribadi, saya termasuk yang suka dengan figur beliau, terutama jika menatap wajahnya. Wajah yang membangkitkan simpati, gestur yang layak dititipkan kasih. Sayangnya, bagi saya, baru sebatas itu saja.

Pertanyaannya, kenapa Jokowi?? Logikanya sederhana, beliau bukan sosok yang membawa-bawa agama atau setidaknya kurang peduli dengan urusan agama, sebagaimana wakil-(gubernur)-nya. Asumsi ini akan benar bahkan jika Jokowi suatu saat melakukan korupsi sekalipun. PKS haters dengan lincah akan mengelak dan membuat pembenaran dgn kalimat sederhana; “Setidaknya Jokowi tidak membawa-bawa agama”. Bagi PKS haters, dunia politik, parlemen, birokrat hingga hukum adalah dunia kotor, sehingga siapapun yang terlibat mestilah berdandan comberan dahulu. Anehnya, jika ada keluarga atau kenalan dan idola PKS haters dalam dunia karut marut itu, mereka tetap bersih… Hmmmm, kebencianmu yang sudah mendarah daging, melahap logika akal sehatmu bro, sist…

PKS haters,

Melalui kolom mungil ini, izinkan saya berbagi 3 strategi ampuh melumpuhkan PKS (atau mungkin lebih tepatnya nasehat) meski engkau mungkin tak menyukainya.

1. Janganlah kebencianmu atas suatu kaum, kelompok, partai, atau siapapun, membuat anda berbuat tidak adil. Jika anda tidak adil, berarti anda menzhalimi, bertindak aniaya pada mereka. Mengikut firman Tuhan, doa orang-orang terzhalimi itu tak berbatas dengan Sang Maha Kuasa, makbul fren. Semakin kalian menzhaliminya, semakin lantang dan dekat doa mereka dengan aras. Bukankah telah nyata keterkabulan doa-doa mereka yang membantah kebenaran hujatan-hujatan atau ekspresi kegalauanmu??

2. Berhentilah meramu racun buat kader-kader PKS, toh itu malah menjadi suplemen baru yang merangsang syaraf-syaraf bawah sadar mereka untuk bangun, bergerak, melakukan ekspansi dan hal-hal gila lainnya. Yakinlah bahwa backupmu tidak sesakti backup mereka, imanmu tidak sekuat iman mereka, kecuali kalian bisa membuat Tuhan baru yang menandingi Tuhan mereka.

3. Bagi PKS dan kader-kadernya, nilai-nilai agama adalah bingkai perilaku dalam segala hal termasuk berpolitik. Agama adalah spirit, roh juang mereka. Karena itu, imam sekalipun kalau sudah kentut, mesti mundur dan digantikan makmum terdekat. Kalau tidak, jama’ah jadi bubar dan nilai ibadah menjadi nihil. Bukankah itu uraian fakta-fakta, bukti gamblang yang engkau saksikan setiap detik?? Kecuali memang mata dan hatimu sudah diselimuti halimun kebencian itu, dan menyematkan pin PKS haters selamanya hingga menuju kematianmu dalam penasaran. Tanyakan kedalam kerak sanubarimu, engkau sebenarnya membenci apa dan siapa??

Sahabatku PKS haters yang super, apakah engkau benci dengan Islam?? Ketahuilah bahwa Islam itu rahmat bagi sekalian alam meski engkau mencampakkan nilainya. Apakah engkau benci dengan pembawa obor, suara dan pekik kebenaran?? Ketahuilah bahwa kebenaran akan selalu tegak dengan atau tanpa mereka. Atau, apakah engkau benci dengan kader dan pemimpin PKS?? Ketahuilah, seberat apapun kebencianmu, mereka akan selalu berkata “We love you full”.

Afwan jiddan, mohon maaf beribu dan berbapak maaf PKS haters, jika proposal strategiku ini tak mampu melumpuhkan PKS lovers atau hanya membuahkan hasil nol.

Hasbunallah wani’mal wakiil.

http://www.pksnongsa.org/2013/03/strategi-pks-haters-melumpuhkan-pks.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter
 

Pendanaan PKS ‘Mengancam’ Partai Lain

Pendanaan PKS ‘Mengancam’ Partai Lain

Anwar Muhammad | Kompasiana

Setelah ancaman pertama, pada kesempatan ini kita akan melihat ANCAMAN dari PKS selanjutnya. Ancaman ini mungkin diluar prediksi banyak orang atau pengamat, yang menganggap bahwa PKS tidak punya BIG BOSS, atau plutocrat behind d scene, seperti ARB, JK, dll di Golkar, SP & HT di NasDem, Konglomerat dibalik PDIP, Demokrat, dst. Dengan demikian, implikasi anggapan ini adalah PKS miskin, minim dana, bangkrut, gak mungkin iklan macam2, dsb.



Hal tersebut tidaklah mengherankan, sebab dari mula kejadiannya (1998), orang kebanyakan terus saja mempertanyakan, siapa BOS PKS. Kita mungkin masih ingat bagaimana PKS dikait-kaitkan dengan Keluarga Cendana, bahkan lebih seramnya, PKS disebut sebagai partai bentukan cendana yang disusupkan dalam gelombang reformasi. Tuduhan ini menurut saya sebenarnya hanyalah pemenuhan syahwat keingin-tahuan banyak orang akan supplier dana kegiatan-kegiatan PKS dalam berpartai. Bukankah telah menjadi jamak di negeri kita bahwa orang ber-uang akan membuat atau menguasai partai guna mendapatkan tahta, pengaruh, otoritas, hingga pundi-pundi anyar? Utilitarian.



Lantas, darimana PKS mendapatkan dana operasional? Sampai kapan partai ini akan bertahan hidup? Mengapa SOKONGAN PENDANAAN untuk PKS menjadi ancaman bagi partai lain??



Disinilah anehnya PKS. Coba amati premis-premis berikut.



Pertama, partai ini bukan milik FIGUR atau sekelompok kecil orang. PKS adalah milik banyak orang, atau dalam istilah mereka “JAMA’AH” atau “UMMAH”. Ustadz Yusuf Mansur pernah menjelaskan bahwa DANA bukan persoalan yang berat jika dipikulkan kebanyak orang, ‘alaikum biljama’ah. Uang 20.000 sangat kecil, habis sekali makan, kadang gak sempat pesan es teh pula. Tapi jika ente; masih menurut beliau, bersama-sama mengumpulkannya, atau setidaknya dihimpun dari paling sedikit 1 juta orang yg meng-klik like setiap status FB saya, maka banyak yg bisa kita lakukan.



Ada rekan yg sejak dulu saya kenal PKS banget, menyampaikan bahwa jumlah KADER PKS saat ini paling sedikit 1,5 juta orang. Kader yg beliau maksud adalah kader utama atau inti. KU ini setiap bulan mempunyai utang paling kecil 4% dari penghasilannya. Utang itupun bersifat progresif, semakin banyak penghasilan, semakin besar per-senan yang ditagih. Jadi, dengan hanya menggunakan kalkulator cabai, tak perlu F3000, kita dapat mengkalkulasi berapa dana yang terkumpul setiap bulannya. Hitungan sederhananya adalah:
- Jumlah Kader Utama = 1.500.000 orang

- Penghasilan rata2 min = 2.000.000 /orang/bulan

- Potongan min 4% = 0.04×1.500.000×2.000.000= 120.000.000.000 rupiah/bulan

- Lancar 75% saja = 90.000.000.000 rupiah/bulan

Angka ini belum termasuk (masih kata beliau) dana-dana lain semisal :

- Potongan rata-rata 50% gaji anggota legislatif dan eksekutif

- Sumbangan rutin dari kader-kader pendukung yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kader utama

- Todongan atau pungutan insidentil dari kader untuk membantu kegiatan-kegiatan sporadis, misalnya beli door prize, makanan berat, dll.

- Sumbangan dari lembaga2 profitable milik kader dan simpatisan PKS. Seingat saya, dulu (awal tahun 90-an), ada lembaga bimbel milik kader PKS (sekarang beliau jadi Gubernur) yang kerjanya beli sepeda motor untuk dipakai ustadz-ustadz berceramah diberbagai pelosok. Hmmmm, partai apaan ini.

So, bayangkan saja kekuatan jama’ah itu. Kata sederhananya begini. Kalau partai lain akan semakin kehabisan dana (kecuali itu tadi, mencari imbal balik rate of return dari kekuasaan yg telah diraih via abuse of power, atau pungutan liar bagi siapa saja yg berniat nyaleg atau mau jadi gubenur, bupati, dll) karena membiayai partai yg high-cost. Semakin besar partai, semakin tinggi biaya kelolanya. Sementara kebalikan bagi PKS, semakin banyak kader, semakin besar income partai.



Pesan saya bagi pesaing PKS, anda cukup membangun opini kejelekan PKS hingga ditinggalkan kader-kadernya, atau setidaknya tak mendapat suplai kader baru. Kalau anda tidak mampu, siap-siap saja dilindas PKS.



Kedua, ada slogan atau katakanlah prinsip yang dipegang teguh kader2 PKS. Saya kurang ingat istilah mereka, tetapi maknanya kira2 begini; “Dana perjuangan kami adalah dari kantong-kantong kami”. Semangat berinfaq, membelanjakan harta dijalan yg mereka yakini ini, sama hebatnya dengan menolong korban banjir, gempa, hingga donor darah sekalipun. Jihad, kata mereka. Prinsip ini sesungguhnya lebih berbahaya dari yang pertama. Bukankah kita menyaksikan, betapa banyak orang yang berpunya, namun mereka enggan mengeluarkan harta untuk perjuangan menegakkan (nilai) agama. Prinsip yg umum dianut yaaa “banyak uang keluar, mesti lebih banyak uang yang diterima kembali”.



Jadi, semangat menghidupi organisasi/partai (infaq) dengan uang pribadi ini merupakan prinsip yang paling aneh dan mengancam dari kader PKS. Dulu, cuma Muhammadiyah yang memilikinya, sebagaimana pesan KH. Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari Hidup di Muhammadiyah”. Spirit ini amat mendoktrin saya secara pribadi, bukan hanya karena didikan sekolah Muhammadiyah, tetapi agama kita memang mengajarkan untuk banyak MEMBERI, bukan menerima. Jadinya, orang-orang PKS itu MUHAMMADIYAH banget, hehe. Saya kurang tahu, apakah Pak Hatta Rajasa dengan PAN-nya juga menganut semboyan ini. Kalau iya, syukurlah. Tapi kalau tidak, orang-orang Muhammadiyah seperti saya, mungkin bisa terseret PKS, hehe. Saya kemudian berani mengatakan bahwa umur PKS amat tergantung dari spirit ini.



Ketiga, efisiensi. Sokongan pendanaan akan menjadi potensi besar yang amat menakutkan, apabila memenuhi 3 faktor, ada sumber yang kalkulatif, jumlah yang konsisten dan stabil, dan efisien dalam penggunaan. Efisien tidak berarti bakhil, tetapi tepat sasaran dan mendapatkan efek lebih membahana. Dalam ajaran agama, kita telah memahami bahwa terkait dengan HARTA, pertanyaannya ada 2, dari mana didapatkan, dan kemana dibelanjakan. Faktor lain yang menentukan efisiensi adalah kemampuan manajerial dan skala prioritas. Nah, bagi kader-kader dan pemimpin PKS yang kebanyakan diisi oleh orang-orang kuliahan, saya menganggap persoalan ini bukanlah hal yang rumit. Tidak hanya karena mereka paham, tetapi nilai-nilai agama yang mereka anut dengan sendirinya member bingkai kerja yang jelas. Jangankan disalah-gunakan, berlebihan saja sudah dilarang nilai-nilai agama, so inefficient is inept. Apakah partai atau gerombolan lain memahami dan melaksanakan ini ?? Paling-paling aji mumpung.

Kesimpulannya, PKS lagi-lagi ‘mengancam’.
Wallahu a’lam bis-shawwab.



Sumber: http://www.pkspiyungan.org/2013/03/pendanaan-pks-mengancam-partai-lain.html
 

Waktunya Membantu PKS

Antara Isu, analisa politik dan survei


Dicky Saputra |Kompasiana

Pemilihan kepala daerah untuk Provinsi Jawa Barat dan Sumatera Utara sudah berakhir. Untuk Jawa Barat, KPUD Jawa Barat sudah mengumumkan hasil final dari “peperangan” antar partai plus “peperangan” antar tokoh. Sedangkan Sumatera Utara tahapan finalisasinya sedang dikerjakan, namun tidak mungkin hasil quick count oleh beberapa lembaga peneliti yang punya nama dinegeri ini melenceng dari hasil akhir “peperangan” tersebut.

Dua “peperangan” tersebut mematahkan seluruh analisa para pengamat politik dan seluruh lembaga survei ternama dinegeri ini mengenai PKS. Coba kita simak pernyataan seorang pengamat politik dan peneliti muda pada Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi. Analisa Burhanudin terhadap kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, mempengaruhi peralihan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ke Partai Amanat Nasional (PAN) pada Pemilu tahun 2014. Burhanudin mengatak, “PAN akan diuntungkan. Pemilih PAN punya irisan dengan pemilih PKS. Pemilih PKS dan PAN hampir sama,” dalam sebuah forum diskusi di restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu, 2 Februari 2013. (VivaNews, Sabtu, 2 Februari 2013). Belum lagi bulan Februari 2013 berakhir Kang Aher (Kader PKS) dan Kang Demiz menang di PILKADA JABAR. Lalu, baru memasuki bulan Maret 2013 pasangan GANTENG memenangkan PILKADA SUMUT. Begitu juga hasil survei yang dilansir Lembaga Survei Jakarta (LSJ), tingkat keterpilihan atau elektabilitas PKS hanya 2,6 persen. Survei dilakukan di 33 Provinsi dengan mengambil sampel sebanyak 1.225 responden pada tanggal 9 sampai 15 Februari 2013. Margin of error kurang lebih 2,8 persen. (OkeZone, Selasa, 19 Februari 2013) Realitanya adalah, dari hasil PILKADA JABAR dan PILKADA SUMUT ternyata pasangan gubernur dan wakil gubernur yang diusung oleh PKS berhasil meraih suara diatas 30% + 1 dan hanya berlangsung satu putaran. Coba hitung margin of error nya survei tersebut. Dan ternyata budaya dalam menganalisa atau survei terhadap PKS menarik bagi media jika perolehan suara PKS kecil atau bahasa mudahnya PKS kalah.

Waktu Perang Sudah Usai

Mari kita tinggalkan “peperang-peperangan” itu karena perang sudah usai, dan kini waktunya berdamai. Tinggalkan segala ego, warna politik, beda pilihan dan dendam pribadi atau golongan karena kini waktu bergandengan tangan. Mari singsingkan lengan baju bersama-sama karena waktu kerja dan melayani masyarakat untuk sejahtera telah tiba.

Saatnya masyarakat Jawa Barat bergandengan tangan dan berdo’a agar Kang Aher dan Kang Demiz di kuatkan oleh Allah SWT untuk bisa dan mampu melayani kehidupan mereka. Dan bagi masyarakat Sumatera Utara agar menjaga proses demokrasi yang sedang berjalan dalam finalisasi perhitungan suara di KPUD SUMUT agar tidak ternodai oleh pihak-pihak tertentu yang ingin memaksakan kehendaknya dan mengakibatkan kedamaian di Sumatera Utara terganggu.

Waktunya Membantu PKS

Bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia dibelahan penjuru dunia dan juga bagi media, baik cetak, televisi, radio, online atau apapun bentuknya mari membantu dan memberikan waktu bagi PKS untuk bisa melayani masyarakat di wilayah yang kader PKS pimpin.

Sampaikan berita secara objektif kepada masyarakat jika itu sebuah prestasi atau korektif dalam menjaga PKS agar tetap berada didalam kebaikan dan kebenaran.

Dan harus kita semua ingat, sesungguhnya Kader PKS adalah bagian dari anak bangsa yang ingin memberikan hal terbaik dari hidupnya untuk bumi pertiwi.

*http://politik.kompasiana.com/2013/03/11/waktunya-membantu-pks-536084.html
 

Curhat Mantan Kader PKS

Oleh: Mustafa Kamal | Kompasiana


Sewaktu saya masih aktif di kampus, sebelum predikat PNS melekat, saya adalah bagian dari Partai Keadilan (sekarang PKS). Ketertarikan saya menjadi bagian dari kader PKS adalah ketika diajak oleh seorang kawan mengikuti semacam pengajian yang diikuti oleh beberapa orang sekali seminggu. Dalam istilah PKS disebut dengan liqo’. Laki-laki (Ikhwan) dan Perempuan (Akhwat) kegiatannya terpisah.

Dalam kegiatan liqo ini diisi dengan majelis zikir dan majelis ilmu. Perihal keimanan, tauhid, ibadah, amalan sunnah, dikupas habis dalam majelis yang mirip zaman Rasulullah terima wahyu ini. Apa yang dipelajari musti diamalkan, dipertemuan berikutnya akan dievaluasi (mutaba’ah). Tidak boleh ada kebohongan, kejujuran adalah hal utama. Solusi-solusi akan dirembukkan bersama. Tidak ada rasa malu dan rendah harga diri disini. Persaudaraan sesama muslim sangat kental terasa.

Kami diajarkan bertanggungjawab dengan tugas amalan harian, jika tidak rampung maka di denda (iqob). Dalam satu majelis liqo dipimpin oleh satu murabbi yang lebih senior, kami dilatih menjadi da’i, berdakwah, tabligh akbar, majelis zikir, kemudian setiap bulan ada juga Tarbiyah Tsaqifyiah yaitu pengajian gabungan dari berbagai kelompok, setiap dua bulan sekali ada juga mabid (malam ibadah).

Intinya tugas kami sebagai kader adalah mengamalkan ilmu dengan mengisi mutaba’ah yaitu semacam catatan ibadah dan amalan harian yang optionnya yang saya ingat diantaranya ibadah (hubungan dengan Allah), tilawah, qiam, rawatib, sholat dhuha, bacaan Al Quran, mathurat , silaturahim dan lain-lain, dan tugas kader yang tak kalah pentingnya adalah mengajak orang beribadah atau diistilahkan “Rabthul’Am”, berdakwah sambil menjaga hubungan dengan umat.

Kekuatan persaudaraan antar sesama kader sangat kuat. Selain kegiatan diatas kami juga mengisi kegiatan dengan berolahraga bersama,sepakbola, futsal, camping, tafakur alam, dan lain sebagainya. Bahkan saya bisa nyetir mobil dari kegiatan kader di internal PKS tersebut. Juga banyak yang mendapatkan jodoh lewat wasilah atau perantara antar murabi ikhwan dan murabi akhwat di PKS. Sesama kader juga wajib saling mengingatkan, curhat, dan tolong menolong dalam kesulitan baik materi maupun rohani. habluminannas yang sangat indah dan takkan terlupa.

Ketika saya harus hijrah, untuk alasan suatu hal. Kemudian lulus menjadi PNS, kegiatan seperti itu saya “tinggalkan” karena ada larangan PNS berpolitik. Sebenarnya batin saya memberontak. Ada kehilangan yang sangat terasa ketika harus jauh dari saudara-saudara sesama muslim yang luar biasa. Ingin rasanya mengurus surat mutasi, dan menjalin hubungan silaturahmi dengan kader PKS di daerah dimana saya hijrah dan mengikuti kegiatan-kegiatan seperti dulu lagi. Namun niat itu hingga kini tidaklah terujud.

Namun hubungan internal diluar kepartaian masih terus terjalin dengan teman-teman di PKS. Banyak teman yang menyesalkan “keluar”nya saya dari partai. Apalagi saya sudah menjadi senior (murabbi) yang sudah merekrut banyak kader. Menurut mereka biarpun tak menjabat lagi dipartai karena status PNS setidaknya saya bisa aktif di dakwah atau pengkaderan. Akhirnya saya memilih diluar kotak saja. Simpatisan.

Setelah beberapa tahun berlalu, ketika saya sudah diluar kotak, namun kontak dengan teman-teman dan kader PKS dimana saya bertugas tetaplah terpelihara. Mereka juga sering kerumah bersilaturahmi kerumah, dan berdiskusi tentang apa saja termasuk masalah politik PKS. Saya melihat seburuk apapun badai yang menerjang PKS sekarang, namun saya yakin tidak akan mampu mengalahkan kesolidan internal PKS. Karena yang menyatukan mereka bukanlah pandangan politik tapi lebih kepada persaudaraan sesama muslim yang sudah terbentuk dan mengakar kuat lewat kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat baik didunia maupun akhirat.

Insyaallah, tidak akan ada satupun kekuatan yang dapat menghancurkan gerakan ini, karena tujuannya sangat mulia, yaitu mulai dari memperbaiki diri, keluarga, masyarakat dan negara. Bilapun ada yang “salah” maka itu adalah kesalahan pribadi mereka yang musti juga dipertanggungjawabkan secara pribadi. Teruslah berjuang wahai saudaraku, berjuang dalam Indahnya ukhuwah dalam dekapan rabithah, “bersalaman” rekat yang kuat dalam ketaatan hanya utk Allah SWT. Salam.

 http://politik.kompasiana.com/2013/03/12/curhat-mantan-kader-pks-536408.html

 

Era Take Off PKS

Oleh : Rusmini Bintis
Kesuksesan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam mendulang suara rakyat di tengah badai memberi kabar gembira luar biasa. Ultimatum Anis Matta saat konsolidasi kader PKS se-Jakarta, Sabtu 9 Maret 2013 menyebutkan bahwa sekarang “PKS dalam tahap take off,”. Telah siap terbang tinggi melampaui batas samudra badai. Fitnah yang ditujukan kepada mantan presiden PKS tidak membuat para kader bergeming, barisan tetap rapi dan semakin solid.

Para pengamat politik dan kaum intelektual tentu menganggap peristiwa kemenangan Aher – Demiz di Jawa Barat dan Gatot – Erry di Sumatera Utara sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih bukan hal yang kebetulan. Musim semi yang terjadi pada PKS belakangan ini merupakan cambuk bagi pelaku rekayasa politik yang menghalalkan berbagai cara untuk sebuah kedudukan. Bahwa tidak selamanya uang dapat membeli segalanya. Bahasa humanis, sisi- sisi kemanusiaan tidak dapat dibeli dengan materi. Walaupun Gatot Pujo Nugroho merupakan cagub termiskin dari para kandidat lain, namun figur beliau yang incumbent mampu menggaet hati masyarakat.

Menjelang pileg dan pilpres 2014, para partai politik semakin gencar mempromosikan produk yang ditawarkan. Sebagian bergerak hanya dengan kata-kata, sebagian lagi dengan karya nyata. Sebagian yang lainnya dengan kata dan karya. Black campaign terhadap saingan partai politik menunjukkan ketidakdewasaan para politikus negeri ini. Ibarat berulang kali masuk di jurang yang sama, secara bersama pula masyarakat mulai cerdas memilih. Tahun 2014 merupakan penentu, persaingan politik yang semakin alot. Eksistensi figur yang akan dinaikkan mulai merambah dan perlahan mendulang simpati rakyat.

Sepanjang sejarah kemenangan pileg dan pilpres di Indonesia, reting kepercayaan masyarakat kian tahun- kian melemah. Golput seolah menjadi kewajaran, keacuhan para pemimpin terhadap nasib rakyat juga berefect pada keacuhan rakyat enggan berpartisipasi dalam pemilihan. “Untuk apa pilih si pulan kalau hidup kami tetap seperti ini”, begitulah demam rakyat. Yang pasti, sederet 10 parpol yang terpilih verifikasi untuk mengikuti pileg dan pilpres 2014, masih ada mutiara di tengah gundukan sampah.

Kekuatan Figur dan Partai Politik
Pada awal tahun 2013 yang lalu, tayangan mata Najwa pernah menghadirkan beberapa publik figur yang dianggap kapabel dinjadikan calon presiden 2014. Figur yang dihadirkan dalam diskusi ringan tersebut bersifat independen non partai. Diantaranya ada Dahlan Iskandar, Jusuf Kalla dan Abraham Samad. Seiring waktu, nama Jokowi juga mulai familiar mewakili PDIP. Prabowo Sugiarto dari partai Gerindra, Abu Rizal Bakri dari Golkar. Pasca diangkat presiden PKS yang baru yaitu Anis Matta, gaungnya juga semakin menyedot perhatian masyarakat.
Partai politik sangat menentukan kesuksesan figur yang dinaikkan sebagai pemimpin. Pasang surut citra parpol diiingi dengan kinerja yang selama ini dilakukan. Selain demokrat yang semakin terpuruk membenahi kepercayaan masyarakat terhadap berbagai kasus korupsi yang melanda, juga tampil partai baru yaitu Nasdem. Tua atau mudanya sebuah parpol pada hakikatnya belum bisa sepenuhnya menjamin jiwa kepahlawanan yang dimiliki para kader partai.

Antara partai dan figur keduanya saling beriringan. Faktor pemersatu diantara keduanya adalah sebuah ideologi. Latar belakang pemikiran sebuah gerakan partai sangat menentukan arah mau dibawa kemana negeri ini. Jika ideologi yang diusung hanya mewakili satu sisi kehidupan, maka sulit untuk diterima khalayak ramai. Semakin mengakar pelayanan yang diberikan oleh setiap parpol dari setiap sendi kehidupan, maka seluruh lapisan masyarakat secara tidak langsung akan menilai dan menemukan yang terbaik dan layak memimpin negeri.

Ambulance gratis yang kali pertama diprakarsai oleh PKS lalu diikuti oleh parpol yang lain. Tidak hanya sisi kesehatan, dunia pendidikan, ekonomi dan sosial masyarakat perlu disentuh oleh semua parpol yang ingin meng -goal -kan kandidat yang dinaikkan. Akankah spring yang dialami PKS sekarang akan tetap bertahan hingga pileg dan pilpres 2014 mendatang? Benarkah ultimatum Anis Matta bahwa PKS kini sedang take off? Mari kawal terus percatuan politik negeri!

*http://politik.kompasiana.com/2013/03/13/pks-spring-542265.html
 

Saya PNS Bukan PKS

Nagaya Muni

Saya PNS bukan PKS. Ya, itulah saya. Aktivitas saya lebih banyak urusan kantor. Berangkat pagi pulang petang. Penghasilan masih pas-pasan. Kalau pas butuh pas ada uang. Walapun PNS saya bukan PNS kebanyakan. Saya nggak suka hal-hal yang fiktif. Saya nggak suka kuitansi fiktif, pertanggungjawaban fiktif, lembur fiktif. Tapi saya suka cerita-cerita fiktif macam Kho Ping Ho, sejak SMP saya sudah baca cerita fiktif Kho Ping Ho puluhan judul sudah saya baca. itu mungkin satu-satunya hal FIKTIF yang saya sukai. Karena saya nggak suka lembur fiktif, kuitansi fiktif dll. saya sempat di benci oleh teman-teman saya.

O ya selain tidak suka hal-hal fiktif yang sudah saya sebut di atas saya juga berani menolak amplop (ada isinya lho). Saya geli sekali lihat atasan saya keki. Itulah momen ketika pertama kali saya menolak amplop dari atasan saya. Ya waktu itu saya menjadi staf administrasi di suatu instansi. Saat itu ada pembahasan anggaran yang melibatkan kementerian dan Lembaga. Ya memang budaya amplop masih berkibar waktu itu. Tapi saya berani menolak. Hebat gak saya! Kalau orang lain mungkin berpikir itu HEBAT. Tapi saya biasa saja. Karena saya berusaha untuk jujur. Waktu jaman kuliahpun saya sangat menentang budaya contek menyontek.

Saya PNS bukan PKS, tapi saya suka PKS. karena saya lihat PKS sangat berupaya keras untuk jujur. Ingat nggak dulu ketika Pemilu pertama setelah reformasi tahun 1999. Ada anggota KPU dari Partai Keadilan yang menolak suap. Kalau nggak salah namanya Mustafa Kamal. Kayaknya sekarang masih jadi anggora DPR dari fraksi PKS. Coba saja gogling nama tersebut di era tahun 1999. Namanya cukup harum diperbincangkan orang karena kejujurannya. Saya kira masih banyak aleg dari PK maupun PKS sekarang yang masih berupaya untuk jujur. Kalau dari partai lain saya nggak tahu. Ada yang jujur mungkin, tapi yang brengsek kayaknya lebih banyak.

Saya PNS bukan PKS, tapi saya seneng lihat PKS. Lihat saja aksi-aksinya sepanjang tahun. Mulai tingkat RT sampai tingkat nasional aksi-aksi mereka 99,99% bermanfaat buat rakyat. Ada baksos, pengobatan gratis, kerja bakti, santunan, bea siswa, ngajarin anak-anak sampai nenek-nenek membaca Al Qur’an sampai pada aksi-aksi solidaritas untuk bangsa lain yang tertindas dan seabrek aktifitas positif lainnya. Maka tak heran banyak yang suka sama partai ini walaupun ada juga yang nggak suka. Tapi itu lebih karena syirik dan nggak tahu saja. Tapi bagi PKS itu nggak penting. Karena bagi mereka kerja lebih diutamakan. Baik diliput atau nggak. Disanjung atau singgung. Di sambut atau di sambit. Nggak Majalah. Saya berkata demikian karena saya berteman dengan orang-orang PKS. Saya deket dengan mereka karena saya se ide dengan mereka. Saya tahu banyak tentang mereka. Tidak seperti para pengamat dan komentator yang asal bunyi dengan nada minor kalau sudah menyangkut tentang PKS. Saran saya sebelum berkomentar tentang PKS kenalilah dulu orang-orang PKS. Cobalah bertamu ke rumah salah seorang kader PKS.

Saya PNS bukan PKS, tapi saya dukung PKS. Saya dukung PKS mengelola negeri ini. Negeri yang sejak berdirinya sudah salah kelola. Berilah kesempatan kepada PKS untuk mengelola negara ini. Kalau yang lain sudah terbukti. Terbukti gagal. Gagal Total. Gagal maning-gagal maning. Lihat saja berapa utang negara ini yang tiap tahun bukannya berkurang malah tambah menggunung. Ini saja sudah membuktikan negara ini sudah salah kelola. Berilah kesempatan kepada PKS. Nggak usah lama-lama. Satu periode saja. Pasti anda akan ketagihan. Beri kesempatan dengan memilih nomor 3 di 2014 nanti. Nggak ada untungnya golput. Memang sih nggak ada juga ruginya.

Saya PNS bukan PKS, tapi saya ingin PKS melayani negeri ini. Karena sudah terbukti yang lain nggak bisa melayani. Yang ada hanyalah nafsu untuk mengangkangi negeri ini seolah-olah negara ini milik neneknya saja. Ketika Parpol lain sudah menjadi Dinasti, PKS tetap konsisten dengan jiwa melayani. Siapa sih yang mau jadi pelayan kecuali PKS.

Saya PNS bukan PKS, tapi saya setuju dengan ide-ide PKS.


*http://birokrasi.kompasiana.com/2013/03/13/saya-pns-bukan-pks-541651.html
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Aku Cinta PKS (Partai Keadilan Sejahtera) - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger