Oleh: Nasrullah Mu | Kompasiana
Yang bergeraklah yang akan menang. Yang bergeraklah yang akan dipilih. Yang bergeraklah yang akan mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat. Yang bergeraklah yang akan menimba pengalaman dan meraih ilmu pengetahuan. Dengan bergerak bekal-bekal kepemimpinan akan diraih.
Mungkin sebuah takdir kehidupan, saya bergabung dengan Partai Keadilan (PK). Pada tahun 1998, aku diajak untuk menjadi ketua DPRa PK tingka desa. Bukan karena kehandalan dalam kepemimpinan dan perpolitikan, tetapi saat itu memang tidak ada orang yang mau bergabung ke PK kecuali saya sendiri. Saat itu, saat pertama kalinya terjun dipolitik dan saat pertama kalinya pula menjadi pengurus partai politik.
Saat itu timbul ketakutan yang luar biasa dalam jiwa saya. Melihat perjalanan para politisi Islam sejak jaman Masyumi hingga PPP. Semua dihancurkan karakternya, dihancurkan nama baiknya bahkan banyak dijebloskan kedalam penjara oleh para pemimpin rezim penguasa. Namun melihat tujuan politik yang begitu mulia yaitu untuk mengelola dan mensejahterakan masyarakat akhirnya pikiran-pikiran itu terhapus dan menjauh.
Dalam kesendirian, aku meulai melangkah. Meyakinkan orang tua, kakak, adik, teman dan orang-orang yang ku kenal. Namun istriku menentang habis-habisan. Apalagi setiap pulang kerja, aku harus kuliah, setelah itu rapat di DPC yang harus ku tempuh dengan berjalan kaki. Sampai rumah bisa sampai jam 2 dini hari.
Saat itu istriku sedang hamil tua. Karena terlalu kelelahan akhirnya aku pun kena penyakit types selama 3 bulan. Disaat keributan memuncak, Allah memberikan pertolongan. Istriku paham akan tanggungjawabnya untuk memperbaiki masyarakat.
Disaat hamil tua itu, istriku berjalan dari rumah ke rumah untuk memperkenalkan PK ke tetangga. Dan saat yang sama, aku tergolek sakit ditempat tidur. Banyak orang yang terheran-heran dengan semangat istriku yang tengah mengandung itu. Aku pun sangat heran dengan semangat istriku yang luar biasa. Alhamdulillah, walau aku tinggal di desa, PK bisa menempati posisi ke 5 dari 48 parpol yang ada.
Tahun 2004, dengan pengalaman pada tahun 1999, dengan 6 orang yang mau bergerak bersama Partai Keadilan Sejatera. Kami membuka pelayanan perpustakaan keliling, rumah baca, konsultasi pendidikan, aktif di posyandu dan mengetuk pintu hampir seluruh rumah yang ada di desa kami. Akhirnya PKS pun menjadi juara pertama di desa ku. Di satu kecamatan, desa yang PKSnya menjadi juara pertama hanya di desa ku saja.
Tahun 2009, aku pergi ke luar kota sehingga tidak bisa memonitor kegiatan di desa ku. Kegiatan yang hanya bisa dilakukan hanya mengetuk pintu dari rumah ke rumah saja. Akhirnya di tahun 2009, PKS hanya menjadi juara ke-2 karena kurangnya aktifitas dan memang saat itu sedang terjadi tsunami SBY.
Dari pengalaman Pemilu di tahun 1999, 2004 dan 2009. Ternyata berpolitik itu tidak kotor. Berpolitik itu tidak perlu saling menghujat, menelikung, menuduh dan memfitnah. Dalam berpolitik, mereka yang paling bermanfaat bagi masyarakat, mereka yang mengabdikan diri pada masyarakat, mereka yang aktif terjun kemasyarakatlah yang akan meraih simpati masyarakat. Biarkan masyarakat yang memilih, Biar masyarakat yang menjadi Jurinya.
*http://politik.kompasiana.com/2013/03/14/yang-bergeraklah-pks-yang-menang-536975.html
Posting Komentar